Pembangunan Jiwa

Di dalam al-Quran masalah jiwa manusia adalah hakekat yang sangat menentukan bagi baik-buruknya seseoang. Artinya amal seseorang dikatakan baik jika jiwanya baik dan dikatakan buruk jika jiwanya buruk. Bahkan sebuah amal yang di mata manusia tampak baik, belum tentu baik menurut Allah. Sebab boleh jadi jiwa yang menghantarkan amal tersebut dalam keadaan kotor dan tidak bersih. Akibatnya amaliyah yang baik memiliki nilai yang tidak baik. Sebagaimana firman Allah: فويل للمصلين = الذين هم عن صلوتهم ساهون = الذين هم يراؤن
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat = (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya = orang-orang yang berbuat riya.

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa shalat yang ditegakan seseorang sekalipun itu ibadah, tapi bila ternyata ditegakkan dengan jiwa yang tidak ikhlas (riya) maka shalatnya ditolak dan pelakunya mendapatkan siksa,
Amal ibadah apapun yang dilakukan dengan riya maka tertolak dan tidak sampai kepada Allah. Sebab jiwa yang menghantarkannya dalam keadaan kotor dan salah alamat.



Alamatnya bukan untuk Allah melainkan supaya dipuji oleh manusia.
Dalam al-Quran Allah selalu mengingatkan manusia agar senantiasa memperhatikan jiwanya. Jangan sampai jiwa yang ia miliki kering dan mati. Sebab boleh jadi seseorang secara fisik dikatakan hidup tetapi secara kejiwaan ia mati. Karenanya Allah berfirman: ياايتها النفس المطمئنة (wahai jiwa yang tenang). Di sini yang Allah panggil adalah jiwa. Mengapa? Supaya manusia tahu bahwa posisi jiwa dalam dirinya benar-benar sangat menentukan. Sayangnya hakekat ini sering diabaikan . Orang lebih banyak mengurus badannya dan mengabaikan jiwanya. Padahal Allah mengutus nabi-nabi untuk mengajarkan bagaimana menghidupkan jiwa. Para nabi mengajak bagaimana beriman kepada Allah dan beribadah hanya kepadanya.
Beberapa bulan yang lalu saat kita memperingati kemerdekaan 17 Agustus kita selalu diingatkan dalam bait lagu Indonesia Raya; Bangunlah jiwanya Bangunlah badannya
Ini seharusnya menjadi instropeksi diri,yang harus kita lebih diutamakan adalah pembangunan jiwa baru kemudian pembangunan badan/pembangunan fisik.
Tapi pada kenyataannya mereka lebih mementingkan pembangunan badan dan mengabaikan pembangunan jiwa. Jiwa-jiwa mereka malah mereka kotori dengan maksiat dan menghalalkan segala cara. Karena banyak yang mengabaikan pembangunan jiwa, kemerdekaan bangsa ini diisi oleh jiwa-jiwa yang mati maka tidak heran kemaksiatan merajalela, korupsi tumbuh subur di mana-mana, pembalakan hutan terus terjadi demi memperkaya diri dan tak peduli dengan nasib anak bangsa di masa depan.
Untuk menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang kering dan mati, maka kita harus kembali kepada Allah, mendekatkan diri kepada-NYA, mengikuti ajaran-NYA, menghidupkan kembali sunnah-sunnah rasul dan mensucikan diri dari dosa-dosa.
Allah SWT berfirman: قد افلح من زكها
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang



yang mensucikan jiwanya. Kata zakkaaha menunjukan makna bahwa hanya dengan membersihakan jiwa seseorang akan mencapai kebahagiaan. Sebaliknya: وقد خاب من دسها dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya. Orang yang mengotori jiwanya pasti akan celaka.
Betapa banyak orang yang mengotori jiwanya dengan maksiat dan munkarot berakhir dengan penderitaan. Belum lagi di akhirat kelak, di dunia saja dia sudah mendapat cacian dan cemoohan orang sekitarnya.
Semoga ibadah puasa yang sudah kita jalani akan mampu membersihkan jiwa kita dari penyakit hati, menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang mati, menghantarkan kita kembali kepada fitrah, kembali kepada jalan Allah.
Marilah kita tingkatkan iman dan takwa kita agar jiwa kita senantiasa bersih dari perbuatan maksyiat dan munkarot dan tentunya amal ibadah kita selalu mendapat rido dari Allah SWT. اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم
قد افلح من زكها وقد خاب من دسهابارك الله لى ولكم فى القر ان العظيم ونفعنى واياكم بما فيه من الايات والذكرالحكيم وتقبل منى ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم اقول قولى هذا استغفرالله لى ولكم ولسائر المسلمين والمسمات فاستغفروه انه هو الغفور رحيم

Islam dan Keharmonisan

Ajaran-ajaran agama yang diturunkan Allah kepada rasul-NYA, bukan sekedar pundi-pundi untuk mengumpulkan pahala, bukan pula sekedar untuk mencapai tujuan kebahagiaan di akhirat dan bukan pula sekedar untuk mengharapkan imbalan surga.
Kalau ajaran-ajaran agama hanya sekedar untuk mengumpulkan pahala, hanya sekedar mengharapkan surga, lalu apa pungsi dan tujuan ajaran agama dalam kehidupan di dunia?
Mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita; mengapa orang yang rajin shalat, rajin puasa tapi masih berbuat maksyiat, mengapa orang yang berkali-kali berangkat haji, rajin umrah tapi masih tak peduli dengan jerit tangis anak-anak yatim, tak peduli dengan ratapan si miskin? Bahkan perbuatannya malah bertentangan dengan ajaran-ajaran agama itu sendiri.
Ajaran-ajaran agama yang diturunkan Allah pada hakekatnya adalah untuk menciptakan kehidupan manusia yang lebih harmonis, lebih serasi, saling menghargai dan saling terpenuhinya hak dan kewajiban.
Ayat-ayat al-Quran banyak berbicara tentang ibadah yang bertujuan untuk menciptakan keharmonisan sosial. Meski terkesan ibadah sebagai bentuk jalinan hubungan manusia kepada Tuhannya, tetapi sesungguhnya lebih dari itu, ibadah merupakan sarana untuk



mendidik mental dan jiwa sosial dengan memberikan kekuatan ruhani dalam jiwa.
Sebagai contoh Allah SWT berfirman: ان الصلوة تنهى عن الفحشاء و المنكر
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.
Tujuan shalat untuk mencegah kriminalitas social (al-fahsya) dan segala bentuk kemunkaran.
Shalat yang berkualitas adalah shalat yang dapat mewujudkan tujuan tersebut. Di lain surat Allah berfirman: فويل للمصلين الذين هم عن صلا تهم ساهون الذين هم يرا ؤن ويمنعون الماعون
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang=orang yang lalai dari shalatanya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.
Betapa shalat seseorang tidak akan bermakna, bahkan pelakunya dikecam, bila lalai dalam mengerjakannya dan tidak memiliki jiwa penolong.

Bahkan dalam ayat sebelumnya Allah menegaskan bahwa orang yang suka menghardik anak yatim atau tidak menganjurkan memberi makan orang miskin adalah orang yang tidak memiliki kepedulian social.
ارء يت الذي يكذ ب با لدين = فذلك الذي يدع اليتيم = ولا يحض على طعا م المسكين =
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Secara implicit, surat ini menghubungkan antara ibadah kepada Allah, dengan upaya mewujudkan keharmonisan social. Ini menunjukan bahwa keharmonisan social akan tercipta, jika tiap-tiap individu telah melaksanakan ajaran-ajara agama dengan baik.
Ibadah puasapun tidak bermakna dan tidak berpahala manakala kita tidak mampu menciptakan keharmonisan sosial seperti berbuat ghibah, berdusta, menyakiti saudara atau tetangganya.
Orang yang melanggar larangan dalam berpuasa seperti melakukan hubungan seksual di siang hari maka sangsi yang diberikannyapun bernuansa sosial seperti membebaskan hamba.


sahaya, berpuasa 2 bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin.
Demikian pula orang yang melanggar sumpah maka sangsi yang diberikannya juga bernuansa sosial seperti memberi makan 10 orang miskin atau sandang atau membebaskan budak
Adalah sebuah kesalahan besar, bila pemeluk agama menganggap bahwa agama hanya berkutat pada masalah begaimana cara beribadah saja, adalah kesalahan besar jika seseorang melakakukan ibadah hanya sekedar mengejar banyaknya pahala dan melupakan makna ibadah dalam kehidupan sosial sehingga agama nyaris tidak berfungsi dalam memainkan peran sosial. Sesungguhnya agama bisa memainkan peran sosial yang lebih besar dalam konteks kehidupan sosial dibandingkan instutisi manapun.
Apapun bentuk ibadah yang kita lakukan, di samping untuk mendekatkan diri kepada Allah, ibadah harus memiliki dampak positif untuk menciptakan sebuah keharmonisan dalam bermasyarakat.
Sebelum mencapai kebaikan di akhirat nanti, maka terlebih dahulu kita harus menjadi orang baik di dunia. Untuk menjadi orang yang baik maka kita harus menjalankan ajaran agama dengan baik dan benar pula, agar bisa menjalankan ajaran agama dengan baik dan benar kita harus banyak belajar, tingkatkan ilmu, tingkatkan iman dan takwa kepada Allah.
اعوذ با لله من الضيطا ن الرجيم
بسم الله الرحمن الحيم
ان الصلوة تنهى عن الفحشاء والمنكر

Aku Bukan Pecundang Cinta

Matamu begitu tajam
Lebih tajam dari sinar rembulan
Yang berada di atas kepalaku
Pandangan matamu menghantarkan
Gontayaian langkaku yang terasa hampang dan hampa.....
Aku kalah......
Rasanya aku ingin mengusir rembulan
Yang terasa mentertawakanku
Aku kalah....
Tapi bukan berarti aku menyerah
Aku tidak menyerah
Aku tahu
Kau sengaja menciptakan cintamu dalam bayang fatamorgana yang kau lempar jauh di depan mataku
Dan aku akan terus mengejarWalau hatiku lelah

Asa yang Terluka

Mengapa kau harus menabur
Benih cinta di atas hatiku yang luka

Kau rajut tali kasih
Di antara kisi-kisi hati yang kecewa

Kata indahpun bagaikan sembilu
Yang mengoyak hati
Langkah-langkahku
Tak lagi menggoreskan asa

Di persimpangan jalan.....
di antara keraguan dankeputusasaan

LENTERA

Mengapa kau nyalakan lentera di tengah terik matahari
Kau tak’kan dapatkan sinar terang
Yang ada hanya sembulan api yang kerdil
Perlahan redup atau mati disentil angin sebelum malam menjelang

Simpan saja lenteramu
Nyalakan manakala malam menjelang
Dia akan berkisah tentang kemesraan dan kemerduan malam

 

Ikutan sahabat